Kamis, 26 Februari 2015

Air terjun Tirto Kemanten, itulah yang kami maksud. Biasa dikenal juga dengan nama air terjun Wonorejo, sama dengan nama dusun dimana air terjun ini berada.
Dinamai Tirto Kemanten yang berarti air pengantin, karena air terjun ini merupakan air terjun kembar atau terdapat dua aliran yang letaknya bersebelahan mirip pengantin yang bersanding.
Menurut penduduk setempat, air terjun ini  merupakan tingkat terakhir dari 7 air terjun yang berada di lereng gunung Raung. Air terjun ini tercipta dari satu aliran sungai yang sama, hanya saja terpisah oleh batu besar yang menjadikannya dua aliran.
Belum ada trayek umum menuju lokasi ini. Biasanya para pengunjung dari luar kota menggunakan jalur kereta api dan turun di stasiun Kalibaru. Dari sini perjalanan  dilanjutkan sekitar 5 km lagi dengan ojek sepeda motor atau sewa mobil.
Yang perlu diperhatikan bahwa jalur yang ditempuh adalah jalan perkebunan yang terjal dengan struktur jalan dari batu prejeng.
Sesampainya di lokasi anda akan menjumpai pos jaga yang dikelola oleh penduduk setempat. Di sini anda diwajibkan melapor, membeli tiket masuk yang sekaligus ongkos parkir. Selanjutnya anda akan menyusuri tangga beton yang menurun, menuju air terjun.
Suara gemuruh air terjun kembar ini sangat mendominasi suasana, walau sesekali akan terdengar suara-suara dari beberapa satwa yang tinggal dikawasan ini seperti kera dan burung-burung.
Dan liburan anda akan terasa kurang lengkap bila tidak turun ke sungainya, membasahi kaki dan muka atau mandi, menyeburkan badan untuk merasai segarnya air di lereng gunung Raung.
Namun bagi anda yang hanya ingin bersantai sambil mengagumi air terjun kembar yang memiliki ketinggian sekitar 10 m tersebut, bisa duduk dan berteduh di bawah bangunan joglo tanpa dinding yang berada di pinggir tanggul, letaknya persis berhadapan dengan air terjun
Image result for air terjun kembar banyuwangi
Image result for air terjun kembar banyuwangi
Image result for air terjun kembar banyuwangi


BANYUWANGI, Banyuwangi bukan hanya menyimpan kekayaan seni dan budaya. Kabupaten yang berada di sebelah timur Pulau Jawa ini juga memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Salah satunya tempat wisata Mangrove Bedul yang terletak di Dusun Blok Solo, Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo.

Wisata Mangrove Bedul yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo menyuguhkan pemandangan hutan mangrove di wilayah daerah hilir dari DAS Stail yang membentuk rawa air payau yang sering di disebut kawasan Segara Anakan yang mempunyai panjang 17 kilometer dengan tumbuhan mangrove yang masih alami dengan ketebalan bibir pantai rata-rata 300 meter.

Nama Bedul sendiri diambil dari nama ikan gabus yang memiliki sirip di punggungnya. Ikan Bedul banyak hidup di wilayah sekitar Segoro Anakan dan sering di dijadikan lauk sehari-hari oleh masyarakat sekitar.

Menurut Suyatno, tokoh masyarakat setempat kepada Kompas.com, Kamis (20/2/2014), konsep wahana wisata alam laut dan hutan di Blok Bedul muncul sejak tahun 2003. Kemudian pada tahun 2007 Desa Sumbersari Purwoharjo dijadikan Desa Model Konservasi.

"Pada tahun 2007 juga ditandatangani perjanjian kerja sama dengan Balai Taman Nasional Alas Purwo dengan pihak Desa Sumbersari untuk mengelola Blok Bedul termasuk dengan LSM dari Jepang (JICA) (Japan International Cooporation Agency) dan BHPM (Balai Pengelolaan Hutan Mangrove) wilayah I yang ada di Bali. Mereka membeli pelatihan tentang flora dan fauna di wilayah magrove," jelasnya.

Pada kawasan blok Bedul terdapat 27 jenis mangrove serta beberapa jenis burung seperti burung imigran australia, raja udang, elang laut dan beberepa jenis bangau. Luas hutan mangrove sekitar 1.200 hektar yang membentang sejauh 18 kilometer.

"Pengunjung juga bisa menemukan satwa seperti kera, kijang, babi hutan, penyu dan biawak. Tapi yang terbanyak yang sering ditemui ya kera. Dan kami mengimbau pengunjung tidak memberikan makanan kepada binatang liar," kata SUyatno.

Perahu gondang gandung

Untuk menuju ke Bedul, pengunjung bisa mengendarai sepeda motor ataupun kendaraan roda empat dan menempuh jarak sekitar 50 kilometer ke arah Banyuwangi Selatan. Pengunjung tidak akan kesulitan karena selain jalannya yang bagus banyak papan penunjuk jalan menuju wisata alam ini. Wisata Bedul mempunyai dermaga pandang dengan panjang 225 meter.

Dengan tarif yang terjangkau pengunjung bisa mengelilingi Segara Anakan serta melanjutkan ke wilayah Pantai Selatan. Pengunjung juga bisa menuju kawasan Pantai Kere atau Pantai Cungur dengan menumpang perahu yang disiapkan di dermaga pandang.

"Perahu ini dinamakan gondang gandung, merupakan modifikasi dari dua perahu yang dijadikan satu. Dan di atasnya di beri beberapa perahu maksimal penumpang 15 orang," kata Miskar (60), salah satu pemilik perahu yang mangkal di Segara Anakan.

Miskar menjelaskan untuk pantai yang terjauh, pengunjung bisa mengunjungi Pantai Ngagelan dengan perjalanan hampir 2 jam. "Di sana ada penangkaran penyu dan pengunjung harus jalan kaki dulu untuk bisa masuk ke Pantai Ngagelan," katanya.

"Tapi kalau waktunya sedikit ya penggunjung biasanya nyeberang langsung saja ke sana," katanya sambil menunjuk daratan menuju Pantai Selatan.

"Kalau dari seberang sini kesana paling cuma 7 menitan terus jalan kaki sekitar 800 meter untuk ke pantai," sambungnya.


Apalagi, menurut lelaki yang masih kuliah tersebut, dirinya biasanya juga menelusuri hutan untuk menuju Pantai Selatan. "Rasa capek menelusuri hutan akan terbayar setelah melihat laut yang luas dan juga hutan mangrove yang hijau. Pokoknya lengkap kalau datang ke sini mulai dari hutan bakau, hutan basah, sampai laut selatan yang punya ombak besar," jelasnya.

Nah kalau Anda tertarik menelusuri hutan mangrove, menikmati sensasi naik gondang gandung dan mengabadikan foto di pinggir laut selatan. Anda harus memasukkan wisata mangrove Bedul dalam dalam daftar tempat wisata yang harus dikunjungi jika ke Banyuwangi.


Menikmati Ikan Bakar di Pantai Blimbingsari Banyuwangi, Mak Nyus...
Banyuwangi - Menikmati ikan bakar dipinggir pantai pasti enak. Apalagi ikan yang dibakar masih segar dan baru dibawa nelayan dari melaut.

Banyuwangi yang memiliki panjang pantai 175 Kilometer, pantas saja memiliki sentra kuliner khusus ikan bakar dan masakan laut. Dengan pendapatan ikan yang melimpah menjadikan surga bagi para penikmat ikan bakar dan masakan berbahan hasil laut.

Terletak 10 Kilometer dari pusat kota Banyuwangi, Pantai Blimbingsari , Kecamatan Rogojampi terkenal sebagai sentra makanan khas berbahan ikan. Atau jika dari Bandara Blimbingsari, hanya sekitar 5 menit. Lokasinya yang dipinggir pantai ini, memudahkan penjual mendapatkan ikan. Dan untuk penikmat ikan bakar, mereka mendapatkan sensasi makan di pinggir pantai sambil ditemani angin laut.

Pada libur weekend, kebanyakan warung lesehan tersebut dipadati wisatawan dari luar kota, seperti Surabaya, Jember dan Bali.

"Disini ada sekitar 15 warung lesehan. Semuanya jual ikan bakar dan masakan sea food lainny," ujar Misri (49) salah satu pemilik lesehan di Blimbingsari, kepada detikcom, Minggu (19/4/2014).

Misri mengaku, dirinya bisa menghabiskan 10 sampai 11 kilogram ikan segar perhari. Namun jika weekend dan hari libur, warung lesehannya bisa menjual hingga 70 kilogram perhari.

"Paling laris ikan Kerapu, Tambak Moncong, Kakap Merah Putihan. Kebanyakan dibakar. Lainnya mungkin di asam manis. Selain ikan, ada juga cumi dan kepiting, tapi musiman," tambah Misri.

Tidak sulit bagi Misri mendapatkan ikan segar. Dirinya sudah memiliki langganan nelayan yang mencukupi stoknya. Ikan-ikan segar itu diambilnya dari nelayan di Blimbingsari, Muncar dan Grajagan.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengaku adanya sentra ikan bakar di pantai Blimbingsari Banyuwangi ini bisa menumbuhkan ekonomi rakyat warga sekitar. Dulu, pantai Blimbingsari hanyalah tempat parkir parahu nelayan. Namun lambat laun pantai dengan pemandangan pulau bali ini menjadi sentra ikan bakar. Baru setelah itu, Pemkab Banyuwangi membangun infrastruktur penunjang adanya sentra tersebut.

"Kita bangun jalan menuju pantai Blimbingsari dan pagar agar pantai tidak tergerus ombak. Ini merupakan salah satu andalan wisata kuliner Banyuwangi," ujar pria yang memiliki segudang prestasi ini kepada detikcom.

SUMBER : http://news.detik.com/read/2014/04/20/113320/2559814/475/menikmati-ikan-bakar-di-pantai-blimbingsari-banyuwangi-mak-nyus
Pantai Wedi Ireng, Surga Baru Banyuwangi
Banyuwangi - Banyuwangi dikenal dengan banyaknya tempat wisata pantai. Setelah pantai Pulau Merah dan pantai Teluk Ijo yang dikenal wisatawan, ada lagi pantai yang perlu dikunjungi saat liburan, yakni pantai Wedi Ireng.

Ya.. pantai ini menjadi tempat baru wisatawan. Pantai Wedi Ireng berada di Dusun Pancer, Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran.‎ Atau sekitar 5 Kilometer dari pantai Pulau Merah. 

Nama Wedi Ireng diambil dari bahasa jawa. Wedi artinya pasir, sedangkan Ireng adalah hitam. Meski sepanjang pantai pasirnya terlihat berwarna putih, ‎namun jika diamati, pasirnya lebih hitam dibandingkan dengan pasir di pantai yang lain.

"Dibanding dengan Pulau Merah dan Teluk Ijo, Wedi Ireng ini pasirnya lebih hitam. Makanya masyarakat menamai Pantai Wedi Ireng," ujar Wagino (52), warga Pancer, kepada detikcom, Minggu, (11/1/2015).

‎Jika dilihat, pantai ini mirip sekali dengan pantai Teluk Ijo. Bentuknya seperti huruf 'W'. Namun panjang pantainya lebih panjang pantai Wedi Ireng. Ada 2 sisi pantai yang ada di Wedi Ireng, tapi dipisahkan dengan bebatuan di tengah pantai.

Untuk pemandangan, Pantai Wedi Ireng tidak kalah menarik. Pemandangan pantai dan hijaunya air laut terlihat indah. Apalagi sejauh mata memandang, terlihat Pulau Bedil yang mempesona. Pulau ini terpampang jelas di depan pantai Wedi Ireng.

"Pulau Bedil yang besar itu sangat terlihat, sementara pulau-pulau kecil yang berjejer itu sama seperti Pulau Merah. Itu ada juga yang disebut pelawangan juga," pungkas Wagino.

‎Pantai Wedi Ireng layaknya private beach untuk saat ini. Dibandingkan dengan pantai Teluk Ijo, Wedi Ireng lebih sepi sehingga 'keperawanan' pantai ini sangat terasa. Maklumlah baru beberapa wisatawan yang datang ke pantai ini.

"Kalau sudah di ekspose pasti ramai mas. Mending jangan di ekspose," ujar Dana, warga Jember yang sengaja berlibur di Pantai Wedi Ireng.






Merdeka.com - Tempat finish Internasional Tour de Banyuwangi Ijen etape pertama yang bertempat di Pantai Pulau Merah banyak menyimpan cerita menarik. Mulai dari banyaknya penambang yang merusak ekosistem hingga cerita mistis dari pulau ini.

Menurut seorang pemandu wisata, Yogie Turnando (24), Pulau Merah mulai menarik banyak minat wisatawan sejak pemerintah daerah setempat melihat potensi keindahan pantainya. Selain itu, sejak adanya penemuan tambang emas, Pulau Merah semakin banyak dikunjungi.

"Pulau Merah itu mengandung emas. Jadi ketika banyak yang tahu gunung di Pulau Merah ini mengandung emas ya pada akhirnya menarik wisatawan dan pengusaha," ujar Yogie saat ditemuimerdeka.com usai finish etape pertama Tour de Banyuwangi Ijen, Kamis (16/10).

Yogie mengatakan, adanya tambang emas di Pulau Merah karena ada mitos yang berkembang, yakni terdapat sebuah paku bumi alami yang tertanam dalam sebuah gunung di seberang pantai Pulau Merah.

"Di sini mitosnya adanya paku bumi alami yang terbuat dari emas. Dan ternyata itu benar dengan adanya citra satelit yang menangkap adanya tambang besar di sini," kisahnya.

Yogie pun menceritakan awal mula daerah pulau kecil yang terdapat di pesisir Kabupaten Banyuwangi ini dinamakan sebagai Pulau Merah. Menurutnya daerah tersebut dinamakan Pulau Merah karena tanahnya yang berwarna merah.

"Dikatakan merah karena tanahnya memang berwarna merah, apalagi kalau kemarau kaya gini kelihatan merah. Itu semua karena semua pohon di situ meranggas," ujarnya.

Selain karena tanahnya yang merah, di Pulau Merah terdapat kumpulan kelelawar besar yang berwarna merah di dalam gua sehingga pulau tersebut disebut Pulau Merah.

"Menurut legenda, barang siapa yang masuk ke gua kelelawar merah dan melihat manusia dia akan menerima rezeki yang luar biasa," katanya.

Tidak berhenti di situ, Yogie pun menceritakan kisah mistis sebuah batu besar yang berada di sekitar Pulau Merah. Batu yang dikenal warga dengan nama Batu Moro Seneng itu dikatakannya berpindah tempat saat terjadi tsunami pada tahun 1994.

"Sebelum Pulau Merah kita bisa lihat ada batu besar bernama Moro Seneng, di situ ceritanya dulu tahun 94 terjadi tsunami dan tiba-tiba batu itu yang tadinya terletak di selatan Pulau Merah menjadi bisa dilihat dari pantai," ujar Yogie.

"Di samping itu batu itu kan besar tau-tau dia pindah tempat saat tsunami dan masyarakat nyebut itu sebagai batu Nusa Kambang atau batu yang mengambang," lanjut Yogie.

Dia pun menceritakan sejarah dari batu tersebut. Menurutnya batu itu hingga kini dijadikan masyarakat setempat untuk melakukan ritual Saji Laut atau Melasti.

"Dulunya tempat sesajen untuk saji laut atau melasti. Hingga kini masih juga digunakan," tutup dia.


SUMBER : http://www.merdeka.com/peristiwa/cerita-mistis-pulau-merah-dan-batu-moro-seneng-di-banyuwangi.html
Taman Nasional Baluran terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo, tepatnya berada di sebelah utara Kabupaten Banyuwangi. Taman nasional ini merupakan perwakilan ekosistem hutan di Pulau Jawa yang cenderung kering, seperti savana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai dan hutan rawa.
Nama Baluran untuk taman nasional ini diambil dari gunung yang berada di kawasan ini yaitu gunung Baluran. Taman Nasional ini memiliki sekitar 444 jenis tumbuhan dan di antaranya merupakan tumbuhan asli yang khas dan mampu beradaptasi dalam kondisi yang sangat kering. Sedangkan untuk satwa, terdapat 26 jenis satwa yang tinggal di di kawasan ini, diantaranya banteng yang merupakan ikon dari taman nasional ini, kerbau liar, kijang, rusa, macan tutul, kancil dan kucing bakau. Selain itu, juga terdapat 155 spesies burung yang hidup di kawasan ini.
Taman Nasional Baluran memiliki beberapa pos pengamatan yang bisa dikunjungi dan memiliki keistimewaan sebagai sub obyek wisata di dalam Baluran. Seperti: Batangan; di sini terdapat goa peninggalan masa kolonial Jepang, makam putri Maulana Malik Ibrahim dan pengunjung juga bisa melihat atraksi tarian burung merak di saat musim kawin.
Bekol Savannah
Bekol dan Semiang adalah pos untuk pengamatan satwa seperti ayam hutan, merak, rusa, banteng, kerbau liar dan burung dimana terdapat menara pandang untuk mengawasi.
Pantai BamaBama, Balanan dan Bilik adalah beberapa pantai di sekitar taman nasional ini yang bisa dimanfaatkan untuk memancing, snorkling ataupun melihat perkelahian rusa jantan atau kawanan kera abu-abu memancing kepiting ketika laut surut. Sebuah fenomena alam yang tidak setiap hari bisa kita lihat.
Image result for alas baluran situbondo
Image result for alas baluran situbondo

A. Selayang Pandang

Taman Nasional Alas Purwo (atau biasa disingkat Alas Purwo) terletak di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Bagi masyarakat sekitar, nama alas purwo memiliki arti sebagai hutan pertama, atau hutan tertua di Pulau Jawa. Oleh sebab itu, tak heran bila masyarakat sekitar menganggap Alas Purwo sebagai hutan keramat. Sehingga, selain diminati sebagai tujuan wisata alam, kawasan Alas Purwo juga diyakini memiliki situs-situs yang dianggap mistis yang menjadi magnet bagi para peziarah untuk melakukan berbagai ritual di hutan ini.
Taman nasional yang diresmikan melalui SK Menteri Kehutanan No. 283/Kpts-II/92 ini merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah di Pulau Jawa. Ketinggiannya berada pada kisaran 0—322 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan topografi datar, bergelombang ringan, dengan puncak tertinggi di Gunung Lingga Manis (322 meter dpl). Berdasarkan ekosistemnya, tipe-tipe hutan di Taman Nasional Alas Purwo dapat dibagi menjadi hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau/mangrove, hutan tanaman, hutan alam, dan padang penggembalaan (Feeding Ground). Jika diamati sekilas, dari luas lahan sekitar 43.420 hektar, taman nasional ini didominasi oleh hutan bambu, yang menempati areal sekitar 40 % dari seluruh area yang ada.

B. Keistimewaan

Taman Nasional Alas Purwo sangat tepat bagi para pelancong yang gemar menjelajahi hutan, mengamati tumbuhan dan satwa liar, atau penggemar wisata pantai, penikmat selancar air (surfing), atau mereka yang menyukai wisata ziarah. Taman Nasional Alas Purwo memang memiliki hutan yang masih alami, beberapa pantai dan teluk yang indah, serta situs-situs mistis yang kerap menjadi lokasi bersemedi atau tirakat masyarakat setempat dan para pendatang.
Mengunjungi Taman Nasional Alas Purwo, wisatawan dapat mengamati kekayaan flora dan fauna yang ada. Taman nasional ini memiliki setidaknya 13 jenis bambu dan 548 jenis tumbuhan lain yang terdiri dari rumput, herba, semak, liana, dan pohon. Tumbuhan khas dan endemik yang terdapat di taman nasional ini yaitu sawo kecik (manilkara kauki) dan bambu manggong (gigantochloa manggong). Tumbuhan lainnya adalah ketapang (terminalia cattapa), nyamplung (calophyllum inophyllum), kepuh (sterculia foetida), dan keben (barringtonia asiatica).
Kondisi alamnya yang masih alami membuat Taman Nasional Alas Purwo menjadi habitat yang cocok bagi berbagai satwa liar, seperti lutung budeng (trachypithecus auratus auratus), banteng (bos javanicus javanicus), ajag (cuon alpinus javanicus), rusa (cervus timorensis russa), macan tutul (panthera pardus melas), kucing bakau (prionailurus bengalensis javanensis), serta burung merak (pavo muticus) dan ayam hutan (gallus gallus). Tak hanya satwa darat, satwa air yang langka dan dilindungi seperti penyu lekang (lepidochelys olivacea), penyu belimbing (dermochelys coriacea), penyu sisik (eretmochelys imbricata), serta penyu hijau (chelonia mydas) juga menjadi penghuni di pantai selatan taman nasional ini (Pantai Ngagelan).

Padang savana Sadengan tempat penggembalaan hewan-hewan liar
Sumber Foto: http://agnigeni.multiply.com
Sekitar 1,5 km dari padang savana Sadengan, terdapat Pantai Trianggulasi. Nama trianggulasi diambil dari sebuah Tugu Trianggulasi, yaitu tugu penanda untuk keperluan pemetaan yang berada di pantai ini. Pantai Trianggulasi memiliki hamparan pasir putih yang cukup luas dengan formasi hutan pantai yang didominasi oleh pohon bogem dan nyamplung. Lokasi ini cukup cocok untuk kegiatan wisata bahari, berkemah, maupun menyaksikan matahari tenggelam (sunset). Pantai ini juga menyediakan wisma tamu dan pesanggrahan yang dapat digunakan wisatawan sebelum melanjutkan penjelajahan ke obyek-obyek wisata berikutnya.

Pemandangan alam di Pantai Trianggulasi
Sumber Foto: http://agnigeni.multiply.com
Dari Pantai Trianggulasi, berjarak sekitar 5 km arah barat merupakan lokasi Pantai Ngagelan, tempat untuk menyaksikan berbagai jenis penyu. Pantai ini menjadi tujuan penyu untuk bertelur, serta menjadi lokasi khusus penangkaran penyu. Penyu-penyu tersebut umumnya mendarat di pantai pada bulan Januari sampai September setiap tahun. Pada bulan-bulan tertentu pula, biasanya diadakan kegiatan pelepasan penyu-penyu yang sudah siap terjun ke alam bebas.
Lokasi wisata lainnya yang terkenal di mata para peselancar dunia adalah Plengkung yang biasa juga disebut G-Land. Nama Plengkung merupakan nama lokal, sementara G-Land disematkan oleh wisatawan asing yang sangat terkesan dengan gulungan ombak pantai ini. Nama G-Land memiliki berbagai konotasi, antara lain: “Green”, merujuk pada lokasinya yang berhimpitan dengan hutan primer yang masih alami; “Great”, merujuk pada ombaknya yang merupakan salah satu ombak terbaik di dunia untuk olahraga selancar; serta “Grajagan” yaitu nama sebuah pelabuhan nelayan setempat yang menjadi lokasi penyeberangan menuju G-Land sebelum dibangun jalan yang melintasi taman nasional. Kawasan G-Land biasanya ramai dengan aktivitas para peselancar pada bulan Mei sampai Oktober, di mana kondisi ombak sedang bagus-bagusnya untuk berselancar.
Plengkung atau G-Land dapat dikatakan baru dikenal sejak tahun 1970-an, ketika dua orang peselancar asal Kalifornia, Amerika Serikat,  bernama Gerry Lopez dan Mike Boyum mencoba keganasan ombak di Semenanjung Blambangan ini. Rupanya dua peselancar ini sangat terkesan dengan ombak setinggi 4—6 meter yang memanjang sekitar 2 km dan bergulung-gulung membentuk formasi 7 gelombang. Formasi gelombang macam ini merupakan salah satu formasi terbaik di dunia dan menjadi incaran para peselancar kelas dunia. Dua orang inilah yang kemudian mempopulerkan G-Land sebagai lokasi berselancar kepada para peselancar lain di seluruh dunia.
Gulungan ombak di G-Land dapat disamakan dengan tiga lokasi lain di mancanegara, antara lain di Oahu (Hawaii), Fiji, dan Tahiti. Namun, ombak di G-Land dianggap memiliki kelebihan tersendiri, yaitu ombak yang besar, keras, dan panjang. Berbeda dengan ombak di Oahu, misalnya, yang memiliki ombak besar tetapi relatif lebih pendek. Dengan kelebihan tersebut, tidak mengherankan jika kejuaraan berselancar internasional Quiksilver Pro pernah diadakan di G-Land tiga kali berturut-turut, yaitu tahun 1995, 1996, dan 1997. Sayangnya, krisis ekonomi di Indonesia pada tahun 1998 yang kemudian disusul dengan berbagai kerusuhan sosial menjadikan panitia penyelenggara urung mengadakan kembali kejuaraan tersebut di G-Land.

Ombak di G-Land yang sangat disukai para peselancar dunia
Sumber Foto: http://imassofyan.multiply.com
Dari Plengkung atau G-Land, wisatawan dapat meluncur ke arah utara, sekitar 8 km, menuju Pantai Pancur. Di pantai ini tersedia bumi perkemahan (Camping Ground) untuk mereka yang senang berkemah di tepi pantai. Wisatawan juga dapat menikmati keindahan tepi pantai yang tersusun dari pecahan karang hitam dan pasir gotri (pasir ringan dari pecahan karang dan kerang yang berbentuk kerikil-kerikil kecil). Jika melintasi pantai ini, wisatawan disarankan menggunakan alas kaki, sebab jika tidak hamparan pasir gotri tersebut akan menimbulkan rasa nyeri di telapak kaki.

Pantai Pancur yang terkenal dengan pasir gotrinya
Sumber Foto: http://imassofyan.multiply.com
Obyek wisata yang juga menarik di Taman Nasional Alas Purwo adalahSegara Anakan, yaitu sebuah teluk kecil sepanjang 18,8 kilometer dengan lebar rata-rata 400 meter. Di teluk yang menghadap ke Samudera Hindia ini, wisatawan dapat bersampan, berenang, memancing, bermain ski air, atau mengamati tumbuhan mangrove dan burung-burung migran dari Australia. Segara Anakan terkenal sebagai pantai yang memiliki kawasan hutan mangrove terluas di Jawa Timur. Tercatat setidaknya 26 jenis mangrove di kawasan ini yang didominasi oleh rhizopora, bruguiera, avicenia, dan sonneratia. Selain menyaksikanmangrove, pada bulan Oktober hingga Desember, wisatawan juga dapat menikmati ribuan burung migran dari Australia. Ribuan burung tersebut terdiri dari 16 jenis burung, seperti cekakak suci (halcyon chloris/todirhampus sanctus), burung kirik-kirik laut (merops philippinus), trinil pantai (actitis hypoleucos), dan trinil semak (tringa glareola).
Tak hanya obyek-obyek wisata alam, Taman Nasional Alas Purwo juga memiliki situs-situs ziarah yang banyak dikunjungi wisatawan untuk memohon berkah. Situs-situs ziarah tersebut tidak dapat dilepaskan dari legenda Alas Purwo sebagai tempat terakhir pelarian rakyat Majapahit yang tersingkir akibat menguatnya desakan penyebaran agama Islam saat itu. Salah satu bukti sejarah yang masih nampak adalah Pura Luhur Giri Salaka, yaitu tempat ibadah bagi masyarakat Hindu di sekitar taman nasional (biasa disebut orang Blambangan). Masyarakat Hindu di sini diyakini merupakan keturunan rakyat Majapahit yang berpindah menuju Semenanjung Belambangan. Pura Luhur Giri Salaka biasanya ramai dikunjungi penganut agama Hindu pada saat dilangsungkannya upacara Pagerwesi, yaitu upacara mensyukuri anugerah ilmu pengetahuan yang diturunkan oleh para dewata. Upacara ini dilakukan setiap 210 hari sekali.

Pura Luhur Giri Salaka di dalam area Taman Nasional Alas Purwo
Sumber Foto: http://odesya.multiply.com
Selain pura tersebut, masih ada dua gua yang dianggap keramat, yaitu Gua Padepokan dan Gua Istana, yang menjadi lokasi pilihan bagi mereka yang menyukai olah semedi atau meditasi. Taman Nasional Alas Purwo sebetulnya memiliki sekitar 40 buah gua, baik berupa gua alam maupun gua buatan yang sangat cocok untuk para penjelajah gua. Salah satu gua buatan yang banyak dikunjungi wisatawan adalah Gua Jepang, yang di dalamnya terdapat dua buah meriam peninggalan Jepang sepanjang 6 meter. Apabila masih memiliki waktu yang cukup, wisatawan juga dapat menikmati pesona Gunung Kawah Ijen, sebuah gunung yang kesohor karena penambangan belerangnya, yang masih berada dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Gunung Kawah Ijen terletak sekitar 33 km arah utara dari taman nasional ini.

C. Lokasi

Taman Nasional Alas Purwo terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia.

D. Akses

Kota Banyuwangi terletak sekitar 290 km arah timur Kota Surabaya (Ibu Kota Provinsi Jawa Timur) dan dapat ditempuh dengan bus atau kereta api. Sementara dari Pulau Bali, Banyuwangi terletak sekitar 10 km arah barat yang hanya dipisahkan oleh Selat Bali. Untuk menyeberang ke Banyuwangi, wisatawan dapat memanfaatkan jasa Kapal Ferry dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang.
Dari Kota Banyuwangi, Taman Nasional Alas Purwo, dapat dicapai dengan menggunakan mobil sewaan (carter mobil Colt) menuju Pasar Anyar dengan jarak tempuh sekitar 65 km. Dari Pasar Anyar wisatawan dapat menyewa truk atau ojek menuju pos pintu utama di Rawa Bendo. Untuk jasa ojek, wisatawan harus membayar sektar Rp 20.000 menuju Rawa Bendo (Januari 2009). Wisatawan yang ingin memasuki kawasan Taman Nasional Alas Purwo biasanya diwajibkan mendaftarkan diri serta membayar tiket di Pos Rawa Bendo ini.  Dari Rawa Bendo, wisatawan dapat memulai penjelajahan hutan, mengunjungi situs-situs ziarah, atau langsung menuju obyek wisata pantai, seperti Segara Anakan, Pantai Trianggulasi, Pantai Ngagelan, serta lokasi surfing di Plengkung.

E. Harga Tiket

Untuk masuk ke Taman Nasional Alas Purwo pengunjung harus membayar tiket masuk di Pos Rawa Bendo. Pembayaran tiket masuk dibedakan menurut pekerjaan/profesi pengunjung. Besaran harga tiket masih dalam konfirmasi.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Kawasan Taman Nasional Alas Purwo telah dilengkapi fasilitas pemandu, yaitu para Jagawana (penjaga hutan) atau asisten Jagawana yang dapat dimintai bantuan untuk memandu penjelajahan. Untuk jasa pemandu ini, wisatawan harus merogoh kocek antara Rp 75.000 sampai Rp 150.000 per hari. Di kantor pengawasan taman nasional juga terdapat beberapa mobil Jeep untuk patroli serta sepeda motor trail yang dapat disewa untuk keperluan penjelajahan. Apabila membawa kendaraan pribadi, wisatawan juga dijamin tidak akan kesasar menyusuri hutan karena telah dilengkapi papan-papan petunjuk menuju berbagai obyek wisata di dalam taman nasional ini. Papan petunjuk tersebut juga dilengkapi keterangan jarak yang harus ditempuh (berapa kilometer), serta sarana menuju lokasi (misalnya dapat ditempuh dengan mobil, sepeda motor, atau jalan kaki).

Salah satu papan petunjuk di Taman Nasional Alas Purwo
Sumber Foto: http://imassofyan.multiply.com
Selain memiliki beberapa lokasi perkemahan, di beberapa pantai seperti di Pantai Trianggulasi dan kawasan Plengkung atau G-Land juga telah tersedia penginapan. Bahkan di kawasan G-Land saat ini telah memiliki beberapa cottage bagi para peselancar yang dibangun dengan nuansa yang alami dan menyatu dengan alam. Bahan-bahan bangunannya misalnya terdiri dari kayu, bambu, dan tali-temali dari ijuk. Tak hanya itu, suasana alami juga terlihat dari lampu minyak tanah yang dipakai, serta ruang tidur yang menyerupai gerobak sapi tempo dulu. Dengan kelebihan-kelebihan tersebut, conttage yang diperuntukkan bagi para peselancar dunia ini dihargai sekitar 30 US Dollar per malam. Jika Anda menginginkan penginapan yang lebih sederhana, terdapat beberapa wisma tamu di Pos Rawa Bendo seharga Rp 100.000 per malam. Selain itu, di sekitar Pos Rawa Bendo juga terdapat beberapa warung makan